You need to enable javaScript to run this app.

Menjadi Madrasah Ramah Anak dengan Penguatan Pendidikan Karakter

Menjadi Madrasah Ramah Anak dengan Penguatan Pendidikan Karakter

Perilaku agresivitas yang secara spesifik menyakiti atau mengganggu seseorang ataupun sekelompok orang yang dianggap lebih rendah dalam hal kekuasaan dan kekuatan, yang biasanya berlangsung secara berulang dan terjadi di lingkungan sekolah. Bullying adalah contoh perilaku abnormal dan berbahaya. Budaya bullying sering kita jumpai di sekolah, di mana sasaran lamanya adalah seseorang atau sekelompok orang yang mempunyai kekuasaan, tidak bertanggung jawab, dan berulang kali meneruskan serta merasakan nikmatnya melakukan aktivitas tersebut. Bullying merupakan permasalahan yang berbahaya dan mengkhawatirkan dalam dunia pendidikan bagi segala kalangan di semua belahan serta membutuhkan penanganan yang spesifik dari guru dan orang tua. Korban bullying bukanlah orang-orang yang lebih kuat atau lebih kuat dari si pelaku intimidasi, namun korban bullying adalah anak-anak yang memiliki cacat pada bagian tubuhnya yang dijadikan bahan ejekan dan hinaan oleh haters (Willya & Prasetyo, 2018).

Penyebab terjadinya bullying yaitu faktor individu seperti sikap yang terlalu tenang dan rendahnya citra diri menjadikan siswa berpotensi menjadi korban bullying, faktor negatif sekolah (iklim sekolah) mendukung terjadinya bullying, siswa memiliki konsep diri yang rendah karena faktor ketidakharmonisan keluarga, Faktor pertemanan yang tidak sehat dapat menyebabkan siswa menjadi pelaku bullying. Bullying kerap terjadi berawal dari hal yang sepele dan adanya keinginan untuk mengganggu, misalnya ada siswa yang memanggil orang tua teman dengan menggunakan nama, menjahili teman yang sedang belajar didalam kelas kemudian memanggil temannya dengan nama buruk sehingga berujung pada adu mulut.

Pendidikan karakter bertujuan membentuk nilai-nilai moral, seperti empati, toleransi, dan penghargaan terhadap keberagaman, yang akan membantu siswa memahami dampak buruk dari perilaku bullying. Di tingkat sekolah dasar, peran pendidik menjadi sangat krusial dalam menanamkan nilai-nilai toleransi, anti kekerasan anti perundungan dan lain-lain. Program penguatan pendidikan karakter dan pengamalan budi pekerti dan moral, merupakan salah satu strategi penanganan dan pencegahan  bullying di sekolah. seperti yang dilakukan di lingkungan MI Unggulan Miftakhul Hikmah, untuk mengatasi perilaku bullying adalah dengan mengetahui terlebih dahulu penyebab permasalahannya, memberikan nasehat, memberikan pelayanan, Kerjasama dengan orang tua/ wali murid dan memperingatkan pelaku bullying. Berbagai strategi yang diterapkan di sekolah diharapkan dapat membawa perubahan perilaku siswa menjadi lebih baik.

Salah satu strategi guru dalam meminimalisir terjadinya perilaku bullying adalah guru membuat perjanjian dengan para peserta didik di awal pelaksanaan pembelajaran. Agar setiap siswa memiliki rasa tanggung jawab dan konsekuen atas perjanjain dan kesepakatan yang dibangun secara bersama. Kemudian guru memberikan edukasi tentang dampak negatif tindak bullying.

Para wali murid juga diikut sertakan dalam strategi meminimalisir bullying dengan mengadakan sosialisasi “Tim Pencegahan Penanganan Kekerasan” (TPPK) dengan para wali murid pada setiap awal semester kemudian difollow up dengan Kelas Parenting Tiap akhir semester. 

Selain itu sosialisasi tersebut dapat meningkatkan kerja sama antara pihak sekolah dan orang tua dalam tindak pencegahan bullying. Pada proses pembelajaran setiap pagi sebelum pembelajran dimulai siswa secara bersama-sama mengucap ikrar Siswa anti Bullying, wali kelas juga tidak bosan memberikan edukasi terkait dampak negatif tindak bullying. Menanamkan pendidikan karakter dengan terus menerus memberikan nasehat dan suri tauladan yang baik kepada peserta didik, mengajak diskusi, memberikan kesempatan anak menyampaikan pendapatnya dan bercerita tentang keluhan selama pembelajaran.

Menanamkan pendidikan karakter melalui pelajaran agama juga tidak kalah penting. Yaitu dengan mengambil kisah-kisah teladan nabi dan para sahabat nabi. Bagaimana mereka bergaul dengan saudara sesama muslim dan non muslim dalam bingkai penghargaan dan penghormatan sebagai sesama ciptan Allah SWT.

Bullying merupakan suatu bentuk kekerasan anak yang dilakukan teman sebaya kepada seseorang anak yang lebih rendah atau lebih lemah untuk mendapatkan keuntungan atau kepuasan tertentu. Uapya tindak kekerasan dapat dilakukan melalui pendidikan karakter. Keberhasilan remaja dalam proses pembentukan kepribadian yang wajar dan pembentukan kematangan diri membuat mereka mampu menghadapi berbagai
tantangan dan dalam kehidupannya yang akan datang.


Menjadi Madrasah Ramah adalah upaya untuk turut serta menciptakan pendidikan yang toleran, anti kekerasan, dan menghargai segala bentuk perbedaan. seluruh warga madrasah adalah bagian tak terpisahkan dalam mewujudkan madrasah ramah anak. Guru adalah orang tua para siswa. Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di madrasah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu dan seimbang.

Madrasah berperilaku proaktif dengan membuat program pengajaran keterampilan social, problem-solving, manajemen konflik, dan pendidkan karakter. Guru memantau perubahan sikap dan tingkah laku siswa di dalam maupun di luar kelas shingga perlu adanya kerjasama yang harmonis antara guru kelas, guru mata pelajaran serta karyawan sekolah. Keterlibatan orang tua dalam menjalin kerjasama dengan pihak madrasah sangat dibutuhkan untuk tercapainya tujuan pendidikan secara maksimal tanpa adanya tindakan bullying antar pelajar di madrasah.

©MI6

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

Mukhamat Iqbal, M.Pd

- Kepala MI Unggulan Miftakhul Hikmah -

Assalamualaikum wr.wb. Seraya memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, disertai perasaan bangga saya menuliskan sambutan dalam rangka penerbitan website…

Berlangganan
Banner